The Outfit Repeater is a personal style blog focused on thrifted, vintage & affordable fashion. It's a space for inspiration and tips on how to repeat your closet, rewear a decade, and rework your secondhand finds.
@mzda_thrifting
Plus Minus Thrifting
Seperti yang sudah Mina sempat bahas, thrifting adalah suatu hal yang cenderung positif. Tapi ternyata, thrifting tak selamanya merupakan hal yang baik.
Sebelum kamu menetapkan untuk membeli atau bahkan menjual barang bekas, plus minusnya berikut ini wajib kamu ketahui.
Kelebihan Thrifting
1. Baik untuk lingkungan
Saat kamu menggunakan kembali barang yang sudah tak dipakai orang lain, kamu mencegah barang tersebut masuk ke dalam tempat pembuangan.
Melansir tempat pembuangan sampah menghasilkan banyak zat beracun, air limbah, dan gas metana.
2. Lebih hemat
Barang bekas sudah pasti harganya lebih murah dibanding barang baru.
Jadi, kamu bisa lebih hemat dan menabung lebih banyak.
Uang yang bisa kamu simpan dari berbelanja thrifting dapat dialokasikan untuk hal lain, misal untuk dikembangkan di platform syariah, seperti ALAMI.
Kekurangan Thrifting
1. Kondisi barang tidak prima
Karena bekas pakai, tentu kamu tidak akan bisa mendapatkan barang dalam kondisi terbaiknya.
Jadi, saat membeli, harus sangat cermat memperhatikan apakah barang yang dijual masih layak dan bisa bertahan cukup lama atau tidak.
2. Sulit menemukan yang diinginkan
Di toko barang bekas, kamu tidak tahu apa saja yang ada di sana dengan pasti.
Saat datang ke toko, kamu belum tentu mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Bahkan, jika barang yang kamu hendak beli adalah baju, tak jarang ukurannya juga tak sesuai dan tidak ada pilihan lainnya.
Peluang Usaha Thrifting
belanja barang bekas di Indonesia telah menjadi tren yang kekinian.
Bahkan, bisa dibilang bahwa membeli barang bekas adalah bagian dari gaya hidup.
Jika kamu mau berbisnis barang bekas, tentu ada peluang yang menjanjikan di Indonesia.
Apalagi, modal yang dibutuhkan untuk bisnis ini cukup rendah.
Disebutkan bahwa kamu bisa mendapatkan paling tidak 50 potong pakaian secara acak dengan harga 1 juta rupiah.
Jika dijual kembali dengan harga 50 ribu saja, sudah cukup banyak keuntungan yang bisa kamu dapatkan.
Kuncinya adalah mengetahui bagaimana mensuplai baju untuk tokomu dan kejelian dalam memilih koleksi yang akan dijual agar menarik pelanggan.
